Berita Berita Properti

Catat, Ini Spesifikasi Rumah Tahan Gempa dari Dosen UMM! Apa Saja yang Perlu Diperhatikan?

2 menit

Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Ir. Erwin Rommel, M.T. menyebutkan spesifikasi rumah tahan gempa. Ketahui penjelasannya di sini, yuk!

Indonesia terletak di kawasan rawan gempa bumi karena dilalui oleh tiga jalur pertemuan lempeng tektonik, yakni Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng pasifik.

Maka tak heran jika bencana gempa bumi bukan lagi hal asing di negeri ini.

Berangkat dari hal ini, ketika mendirikan bangunan, sudah selayaknya mengantisipasi dampak dari gempa bumi yang sewaktu-waktu bisa terjadi.

Baru-baru ini, Cianjur dilanda gempa bumi skala 5,6 SR yang mengakibatkan banyak bangunan runtuh dan korban jiwa pun berjatuhan.

Dilansir dari detik.com, menurut Erwin, sebagian besar bangunan di Cianjur adalah bangunan rendah dan sederhana yang belum memenuhi kaidah rumah tahan gempa.

“Kebanyakan masyarakat awam beranggapan bahwa gempa yang terjadi lebih berdampak signifikan pada bangunan tinggi saja. Nyatanya, bencana gempa bisa mengakibatkan kerusakan pada semua bangunan, baik rumah tinggal maupun gedung-gedung bertingkat,” kata Erwin.

Spesifikasi Rumah Tahan Gempa

desain rumah tahan gempa

sumber: antaranews.com

Erwin yang menjabat sebagai Kepala Badan Pengawasan Pembangunan Kampus (BP2K) UMM itu mengatakan bahwa ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan untuk membangun rumah tahan gempa:




  1. Membuat bangunan dengan bentuk yang benar-benar simetris.
  2. Pengaku pada dinding tersedia dengan cukup, minimal setiap 12 meter persegi luasan dinding harus diberikan kolom dan balok praktis.
  3. Memberi pengangkuran yang cukup pada setiap sambungan elemen bangungan. Contohnya sambungan dari dinding ke balok fondasi, sambungan dinding ke kolom, atau sambungan balok ke konstruksi atap.

Menurut keterangan Erwin, rumah tahan gempa dapat tercipta jika seluruh elemen bangunan mulai dari pondasi, balok, sloof, kolom, dinding, dan balok atap tersambung dengan baik dan benar.

Di samping itu, juga perlu ada penyalur beban dari satu elemen ke elemen lain agar bangunan yang didirikan tidak mudah runtuh dan bisa menahan gempa.

Namun pada kenyataannya, pembuatan rumah tahan gempa membutuhkan biaya yang lebih mahal.

Masalah biaya komponen kerap menjadi kendala untuk mewujudkan hal tersebut.

Erwin memberikan tips untuk mengatasi hal tersebut, yakni dengan menggunakan bahan-bahan bangunan yang tersedia di sekitar lingkungan tempat tinggal.

Jika baja mahal, maka bisa menggunakan bambu, rotan, atau kayu sebagai tulangan.

Selain itu, juga perlu ada edukasi kepada masyarakat terkait antisipasi dan mitigasi ketika terjadi gempa bumi.

***

Semoga informasi artikel ini bermanfaat untuk kamu, ya!

Simak berbagai contoh kutipan menarik lainnya hanya di berita.99.co.

Kamu juga bisa menemukan berbagai topik bacaan melalui Google News.

Sedang mencari rumah? Dapatkan rekomendasinya di www.99.co/id.

Temukan juga listing properti terbaik di Rumah123.com.

Cari hunian kini lebih mudah karena kami #AdaBuatKamu.




Alya Zulfikar

Penulis 99.co Indonesia

Related Posts