Berita Berita Properti

6 Jenis Rumah Adat Kepulauan Riau dan Penjelasan Karakteristiknya

3 menit

Indonesia, negeri gugusan pulau, terkenal di mata dunia karena keanekaragamannya. Salah satunya rumah adat Kepulauan Riau yang unik dan khas.

Setiap rumah adat di Indonesia mempunyai ciri khasnya sendiri, bahkan setiapnya menyimpan filosofi hidup sebagai ajaran leluhur.

Hingga kini, rumah-rumah adat menyimpan nilai historisnya masing-masing, sebagai cerminan suatu kelompok etnik itu sendiri.

Tak terkecuali Kepulauan Riau, sebab ada banyak rumah adat melayu berbagai jenis yang dimiliki provinsi ini.

Ingin tahu apa saja rumah adat Kepulauan Riau? Simak penjelasan berikut ini, yuk!

Jenis-Jenis Rumah Adat Kepulauan Riau

Nama rumah adat kepulauan Riau adalah rumah Belah Bubung. Rumah adat ini terbagi ke dalam lima jenis rumah berdasarkan bentuk atapnya, yakni Balai Salaso Jatuh, atap Lotnik, Salaso Jatuh Kembar, atap Lipat Kajang, dan atap Limas Potong.

1. Rumah Belah Bubung

Rumah Belah Bubung juga dikenal dengan nama rumah Rabung atau rumah Bubung Melayu. Konon, asal-usul penamaan rumah ini berasal dari orang-orang asing seperti orang Cina dan Belanda yang datang ke Indonesia.

Bentuk rumah Belah Bubung sama seperti dengan rumah panggung, yakni dibangun 2 meter di atas tanah dan ditopang menggunakan beberapa tiang penyangga.

Rumah adat Kepulauan Riau ini dibangun dengan menggunakan kayu sebagai materialnya dan memiliki atap yang bentuknya menyerupai pelana kuda.

Proses pembangunan rumah ini tidak boleh sembarangan karena harus melalui berbagai tahapan yang dipercaya untuk menghindarkan pemiliknya dari kesialan.

Menariknya, rumah ini juga berfungsi sebagai penanda status. Semakin besar ukuran rumah Belah Bubung yang dibangun, maka semakin berada pula orang yang membangunnya.

2. Balai Salaso Jatuh

rumah adat kepulauan riau

Berdasarkan namanya, “Salaso Jatuh”, rumah ini memiliki arti rumah yang memiliki selasar.

Rumah adat Balai Salaso Jatuh tidak difungsikan sebagai hunian untuk ditinggali keluarga penduduk setempat.

Melainkan difungsikan sebagai tempat untuk diadakannya musyawarah atau rapat adat masyarakat Riau. 

Bangunan ini pun terdiri dari dari berbagai bagian yang disesuaikan berdasarkan fungsinya, seperti Balai Penobatan, Balai Kerapatan, Balairung Sari, dan sebagainya.

Bangunan ini memiliki karakteristiknya sendiri dan yang paling kentara adalah adanya selasar yang mengelilingi keseluruhan bangunan. 

Balai Salaso Jatuh menyimpan banyak filosofi, seperti halnya ukiran. Setiap ukiran yang ada di bangunan ini memiliki filosofinya sendiri dan terdiri dari bermacam jenis.

Filosofi lainnya ada pada penggunaan tiangnya.

3. Rumah Melayu Atap Lontik

rumah adat kepulauan riau

Rumah Melayu Atap Lontik juga kerap disebut sebagai Rumah Pencalang atau Lancang.

Sebutan Pencalang atau Lancang berasal dari bentuk hiasan kaki dindingnnya yang berbentuk seperti pencalang atau kapal.

Pencalang sendiri dikenal sebagai kapal dagang Nusantara yang dibuat oleh orang-orang Melayu.

Disebut sebagai pencalang juga karena rumah ini umumnya didirikan di tepian sungai dan bentuk bangunannya harus menyesuaikan kondisi tersebut.




Dengan demikian rumah pencalang dirancang berbentuk rumah panggung supaya terhindar dari banjir atau serangan binatang liar.

Rumah adat ini berfungsi sebagai rumah tempat tinggal kelompok etnik Melayu di Lima Koto, Riau.

4. Salaso Jatuh Kembar

Rumah adat Salaso Jatuh Kembar adalah ikon dan simbol dari provinsi Kepulauan Riau.

Mendengar namanya, mungkin tidak jauh dengan Balai Salaso Jatuh dan memang bentuknya tidak jauh berbeda.

Bangunan ini dirancang dengan bentuk rumah panggung dan terdiri dari beberapa tingkat. 

Sama seperti Balai Salaso Jatuh, rumah ini juga tidak difungsikan sebagai tempat tinggal.

Tapi untuk musyawarah dan pertemuan adat masyarakat Riau.

Sebab memiliki peran yang penting bagi masyarakat, rumah ini memiliki ruang-ruang tersendiri yang memiliki fungsi khusus.

Seperti ruang untuk penyimpanan alat musik tradisional, musyawarah, acara adat, hingga dapur.

5. Rumah Melayu Atap Lipat Kajang

Nama Lipat Kajang diambil dari bentuk rumah ini yang menyerupai perahu. Lipat Kajang sendiri menjadi nama daerah di Simpang Kanan, Aceh Singkil.

Lipat Kajang adalah bentuk dari bumbung curam yang berfungsi untuk memudahkan air hujan mengalir turun.

Namun, seiring perkembangan zaman, rumah adat ini sudah jarang dijumpai dan bahkan sudah tidak digunakan lagi.

6. Rumah Melayu Atap Limas Potong

Dari namanya, sudah jelas jika nama rumah ini diambil dari bentuk atapnya yang berbentuk limas potong.

Rumah adat Melayu ini adalah rumah yang paling sering digunakan mayoritas masyarakat Riau. 

Sama seperti rumah adat Riau lainnya, rumah ini juga dirancang berbentuk panggung dengan tinggi sekitar 1,5 meter.

Material utama yang digunakan adalah kayu.

Semakin besar bentuk rumah ini, tandanya semakin kaya juga pemiliknya.

***

Semoga artikel ini bermanfaat ya, Sahabat 99!

Simak informasi menarik lainnya di Berita 99.co Indonesia.

Sedang mencari hunian di Sentraland Avenue?

Kunjungi www.99.co/id dan temukan hunian impianmu dari sekarang!




Alya Zulfikar

Penulis 99.co Indonesia

Related Posts