Berita Berita Properti

Kisah Satelit Kemenhan yang Jadi Proyek Gagal Indonesia. Habiskan Rp800 M dan Dimarahi Jokowi!

2 menit

Salah satu proyek terugi yang pernah dialami Indonesia adalah keberadaan satelit Kemenhan di tahun 2015. Saking ruginya, Jokowi pun sempat marah dengan keberadaan proyek ini!

Dilansir dari kompas.com, Kementerian Pertahanan Indonesia harus menanggung malu karena sempat membuat negara merugi miliaran rupiah.

Hal ini karena terjadi pelanggaran pada proyek satelit Kemenhan yang membuat negara digugat dan harus membayar uang sewa dengan harga fantastis.

Karena kerugian ini, Jokowi sempat marah dan menegaskan untuk segera mengusut pelanggaran yang terjadi di proyek ini.

Simak berita selengkapnya di sini!

Kronologi Masalah Satelit Kemenhan di 2015

proyek satelit kemenhan rugi

Dilansir dari kompas.com, permasalahan proyek terjadi ketika Satelit Garuda-1 keluar orbit dari slot orbit 123 derajat Bujur Timur di tahun 2015.

Berdasarkan aturan International Telecommunication Union (ITU), negara diberi tiga tahun untuk mengembalikan satelit ke slot orbit.

Ketika terjadi kekosongan, Kemenhan pun membuat kontrak sewa satelit kepada banyak perusahaan untuk mengisi satelit sementara.

Selagi satelit diisi sementara, Kemenhan mengajukan permintaan untuk mendapat hak pengelolaan satelit ke Kemkominfo di tahun 2016.

Namun, Kemkominfo tidak langsung menanggapi hal tersebut dan permintaan baru disetujui di tahun 2018.

Keanehan muncul karena Kemenhan menekan kontrak bersama banyak perusahaan sewa satelit untuk mengisi kekosongan orbit.

Padahal, Kemenhan belum mendapat anggaran satelit militer pada saat itu.

Beragam perusahaan yang bekerja sama dengan Kemenhan di antaranya adalah Avanti, Navayo, Airbus, Detente, Hogan Lovells, dan Telesat.




Merugikan Negara sampai Rp800 Miliar

kerugian satelit kemenhan

Setelah beberapa tahun pasca tanda tangan kontrak, Avanti menggugat Kemenhan di London Court of International Arbitration.

Gugatan dilemparkan karena Kemenhan gagal membayar sewa sesuai nilai kontrak yang ditandatangani.

Di tahun 2019, pengadilan memutuskan Indonesia harus membayar biaya sewa satelit, arbitrase, konsultan, dan filling satelit pada Avanti sebesar Rp515 miliar.

Bukan cuma Avanti, Navayo juga turut menggugat Indonesia dan membuat negara harus membayar tagihan sewa satelit sebesar Rp314 miliar.

Perusahaan penyewa satelit lain pun mungkin akan turut menggugat Indonesia, sehingga negara bisa mengalami kerugian yang jauh lebih besar lagi.

Karena kerugian yang besar ini, Jokowi marah dan meminta Mahfud MD untuk menuntaskan kasus ini.

Alhasil, pemerintah berkali-kali melakukan rapat demi mengusut tuntas masalah yang tak kunjung selesai ini.

***

Semoga artikel ini bermanfaat untuk Sahabat 99, ya!

Jangan lewatkan informasi menarik lainnya di portal Berita 99.co Indonesia.

Jika sedang mencari rumah di Bandung, bisa jadi Kenari Kebonkopi Alamasri adalah jawabannya.

Cek saja di 99.co.id dan rumah123.com untuk menemukan rumah idamanmu!

Wujudkan hunian idamanmu sekarang juga, karena kami selalu #AdaBuatKamu!




Shafira Chairunnisa

Penulis 99.co Indonesia
Follow Me:

Related Posts