Cerita Kita

Kisah Black Vanilla House: Dari Sarang Burung Walet dan Sriti, Kini jadi Rumah Idaman Bersama Suami

5 menit

“Tempat paling aman, paling nyaman, dan paling membahagiakan hati. Rumah adalah tempat yang selalu dicari untuk kembali di akhir hari.” Itulah alasan beberapa orang melakukan renovasi rumah.

Begitulah arti rumah bagi Ria Tanaya dan Arsa Swastyastu, pasangan milenial yang memiliki rumah impian di masa muda.

Rumah yang ditempatinya saat ini adalah sebuah hunian yang berhasil mereka wujudkan secara perlahan-lahan.

Berbekal kesabaran, dia dan suami sedikit demi sedikit menyiapkan anggaran sesuai dengan kebutuhan. Mulai dari renovasi hingga dekorasi, semua disiapkan secara bertahap dan mandiri.

Wanita yang akrab disapa Yaya itu bercerita, mulanya rumah bernama Black Vanilla House tersebut adalah tempat tinggal bersama orang tua. Bentuknya pun tidak menyerupai rumah pada umumnya.

“Bentuknya tidak menyerupai rumah pada umumnya, tapi lebih seperti ruko, dua lantai, los, 12 tiang. Panjang 13,5 m dan lebar 9 m. Ada cukup pekarangan untuk dapur terpisah dan parkir kendaraan. Memang planning awalnya bisa digunakan sebagai tempat tinggal, juga tempat usaha,” katanya pada 99.co Indonesia.

Sebelum renovasi, segala aktivitas penghuni dilakukan di lantai satu. Sementara lantai dua, belum sepenuhnya terwujud seperti sekarang.

Keinginan untuk merenovasi rumah pun mulai terpikirkan saat lantai dua di rumah tersebut tiba-tiba menjadi sarang burung walet dan sriti.

“Sempat menjadi sarang burung, tapi tidak berkembang. Akhirnya ditinggalkan sama burungnya. Kondisi lantai dua jadi lembap dan gelap. Tipikal rumah burung pada umumnya. Hal ini yang akhirnya membuat kami memutuskan untuk merenovasi,” kata Yaya.

Berikut kisah selengkapnya.

Kisah Black Vanilla, Rumah yang Dibangun dengan Sepenuh Hati

1. Berawal dari Sarang Burung

kisah renovasi rumah black vanilla house

Rumah milik Yaya dan suami telah berdiri sejak tahun 2002. Artinya, rumah yang teletak di Lombok, Nusa Tenggara Barat tersebut tergolong cukup lawas.

Dari awal pembangunan, Yaya bercerita bahwa segala aktivitas penghuni rata-rata dihabiskan di lantai satu. Sementara lantai dua, tidak pernah terpakai sama sekali.

Maka tak heran, burung walet dan sriti lambat laun bersarang di area lantai dua rumahnya. Sejak saat itu, Yaya memutuskan untuk merenovasi lantai tersebut.

“Pelan-pelan menyusun rencana untuk membuat rumah impian saya dan suami. Supaya lantai dua bisa kami manfaatkan dan kesan spooky serta lembap dan gelapnya juga hilang,” tuturnya.

Meski sudah memiliki keinginan untuk renovasi, Yaya mengaku bahwa prosesnya tidak mendesak. Namun, target dan tujuannya sudah jelas. Begitu juga desain secara keseluruhannya sudah pasti.

“Tapi prosesnya bisa bertahap. Konsep rumah tumbuh,” kata dia.

2. Renovasi Rumah Secara Bertahap ala Rumah Tumbuh

kisah renovasi rumah black vanilla house

Renovasi ala rumah tumbuh adalah konsep yang dipakai oleh Yaya dan suami. Artinya, mereka melakukan renovasi tersebut secara bertahap, tidak sekaligus dalam satu waktu.

Menurut Yaya, ada banyak perhitungan yang harus dipersiapkan saat melakukan renovasi rumah ini.

“Alangkah baiknya jika desain global rumah dibuat melalui banyak pertimbangan, diskusi, pencarian inspirasi, dan diperhitungkan baik-baik. Sebisa mungkin jangan banyak perubahan pada proses eksekusinya nanti,” kata dia.

Pertimbangan-pertimbangan itu dilakukan untuk menghindari pemborosan anggaran. Jangan sampai, terjadi bongkar pasang ketika semua sudah selesai.

3. Persiapan Anggaran dengan Menabung Material

Persiapan anggaran tentunya harus disiapkan dengan matang agar semua proses renovasi tersebut berjalan lancar.

Begitu juga bagi Yaya, ketika dalam proses renovasi rumah tersebut, semua anggaran yang disiapkan harus berkesinambungan.

“Biasanya kami pecah menjadi beberapa project kecil. Supaya anggaran dananya juga mengikuti. Misalnya, untuk tahap awal kami buat sekat ruangan, maka nabung materialnya bata ringan, pasir, dan semen,” katanya.

Jika material sudah siap, kata Yaya, pihaknya tinggal menyisihkan dana dari tabungan untuk upah tukang bangunan.

Persiapan anggaran dengan menabung material juga berlaku untuk area lain seperti dapur. Setelah anggaran untuk menabung material sudah siap, dia dan suami tinggal menyisihkan dana untuk ongkos tukang.

kisah renovasi rumah black vanilla house

“Hampir keseluruhan prosesnya dengan tahapan seperti itu. Progresnya juga sesuai kemampuan, tapi tetap on track. Jangan lupa siapkan sedikit dana darurat untuk prepare keperluan tak terduga dalam project yang sedang berlangsung,” katanya.




Demi menekan pengeluaran, mereka juga berusaha menahan diri belanja perabotan atau barang-barang untuk dekorasi sebelum semua progres yang direncanakan selesai.

“Supaya anggaran tidak membengkak, kami utamakan untuk hal-hal yang lebih prioritas terlebih dahulu. Menyelesaikan fisik bangunan, mendekor kemudian,” ujarnya.

Jika dihitung, sejauh ini pihaknya sudah mengeluarkan dana kurang lebih sekitar Rp200 juta untuk renovasi.

4. Dibangun dengan Konsep Terbuka agar jadi Rumah Sehat untuk Keluarga

kisah renovasi rumah black vanilla house

Secara umum, proses renovasi Black Vanilla House lebih berfokus pada lantai dua. Konsep yang diusung adalah hunian terbuka (open space), lapang, dan terang.

Yaya mengatakan bahwa konsep tersebut dirancang agar menjadi rumah sehat supaya aktivitas anggota keluarga terasa lebih menyatu dan hangat.

Meski sudah berdiri sejak tahun 2002, rumah tersebut juga memiliki konstruksi beton tiga lantai. Di sisi lain, Lombok dikenal sebagai daerah rawan gempa.

Maka dari itu, tidak terpikir sedikitpun bagi Yaya untuk merenovasi rumah antigempa. Pihaknya juga bersyukur sampai saat ini dijauhkan dari musibah.

“Terlepas dari apa yang dapat menimpa kita semua, di manapun kita berada, memang alangkah baiknya jika dalam hal membangun rumah impian yang mana kita akan tinggal di sana dalam waktu lama, berkumpul dengan keluarga, sebaiknya dibangun dengan sepenuh hati, dijaga kualitas bangunannya dan dirawat dengan baik. Kami rasa ini adalah hal yang utama,” paparnya.

5. Bersyukur Tidak Mengalami Kendala

Dalam prosesnya, Yaya mengaku tidak mengalami suatu kendala yang menghambat renovasi Black Vanilla House. Semua proses renovasi dilakukan bertahap sesuai kemampuan.

Begitu juga proses renovasi yang tidak mengganggu aktivitas penghuni. Jika biasanya penghuni pindah ke rumah lain untuk sementara sampai proses renovasi selesai, Yaya memutuskan untuk tetap tinggal di lantai satu sampai memantau progres pembangunannya.

Meski demikian, proses renovasi tersebut mengalami banyak tantangan. Mulai dari menjebol dinding hingga menjebol dak beton.

“Dari yang semula sangat tertutup full dinding, mayoritas kami jebol diganti dengan banyak bukaan pintu dan jendela. Dan satu lagi yang cukup berat adalah harus jebol dak lantai untuk membuat void tangga yang cukup lebar. Perlu beberapa hari deep cleaning debu di rumah lantai satu.”

6. Mulai Menampakkan Wujudnya pada Tahun 2019

Sejak tahun 2016, sedikit demi sedikit Yaya dan suami bertekad untuk merampungkan renovasi Black Vanilla House.

Dengan luas bangunan lantai dua kurang lebih 150 m2, kini 80 persen bangunan sudah jadi dan berfungsi.

Adapun 20 persen sisanya akan dilanjutkan untuk project lain yang belum terealisasi. Mulai dari area kamar tidur utama, kamar mandi, walk in closet, railing tangga, dan secondary layer untuk fasad rumah lantai dua.

“Rumah yang sesuai impian akhirnya mulai menampakkan wujudnya pada 2019,” kata dia.

Kini, Yaya yang berprofesi sebagai wirausaha aksesori dan suami yang bekerja sebagai karyawan terus menabung demi melanjutkan proyek yang masih tertunda.

7. Rumah yang Selalu Dirindukan untuk Pulang

kisah renovasi rumah black vanilla house

Menurut Yaya, Black Vanilla menjadi rumah yang selalu hangat dan nyaman untuk berkumpul seluruh keluarga.

Rumah yang akan selalu ada dan dirindukan untuk pulang.

“Bersyukur atas apa yang sudah kami miliki saat ini, walaupun rumah lama dengan bentuk yang sudah ada, sekalipun belum mendekati rumah impian kami, tapi dengan usaha dan ide kreatif, kami yakin bisa mewujudkannya melalui renovasi,” tuturnya.

Informasi Black Vanilla House

Pemilik rumah: Yaya dan Arsa
Lokasi rumah: Lombok, NTB
Luas tanah dan bangunan: LT 220m/LB 300m (2 lantai)
Fasilitas: 4 kamar tidur, 3 kamar mandi, 2 dapur
Tahun selesai: 2019
Biaya renovasi: Rp200 juta
Arsitek: –
Instagram: @blackvanilla.house
YouTube: BlackVanilla House

***

Semoga menginspirasi.

Simak kisah seputar perjuangan mewujudkan rumah impian lainnya hanya di Berita 99.co Indonesia!

Bagi kamu yang sedang mencari rumah dijual di Mataram Lombok, cek sekarang juga hanya di www.99.co/id dan rumah123.com!

**sumber gambar: dokumentasi Black Vanilla House




Ilham Budhiman

Penulis 99.co Indonesia. Lulusan sastra daerah yang berkarier sebagai wartawan sejak 2016 dengan fokus liputan terkait hukum, logistik, dan properti nasional.

Related Posts