Berita Ragam

Kisah Perlawanan Tukang Soto Tusuk Kapten Belanda sampai Tewas Pascaproklamasi Kemerdekaan

2 menit

Situasi Indonesia selepas proklamasi tidaklah aman, khususnya ibu kota Jakarta. Setelah menyatakan kemerdekaan, ada banyak kisah perlawanan rakyat Indonesia yang dikenang hingga saat ini.

Pada saat itu, banyak pemuda yang turun ke jalan-jalan untuk menyerang pasukan Belanda atau Jepang.

Tak hanya itu saja, ternyata juga masih banyak pihak yang mendukung Belanda, terutama pasukan NICA (Netherlands Indies Civil Administration).

Di antara banyaknya kisah, ada satu kisah perlawanan yang cukup menarik, yakni aksi tukang soto yang berani menusuk kapten Belanda.

Seperti diceritakan oleh wartawan bernama Rosihan Anwar dalam bukunya yang berjudul “Kisah-kisah Jakarta Setelah Proklamasi”, ia pindah dari rumah kosnya di Kramat ke Gang Kingkit di sekitar Pecenongan karena alasan keamanan.

Rosihan menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana para pemuda turun ke jalan-jalan melawan sisa-sisa tentara penjajah.

Kisah Perlawanan Tukang Soto Tusuk Kapten Belanda

indonesia setelah proklamasi kemerdekaan

kompas.com

Setelah proklamasi, waktu itu dikenal dengan zaman “siap-siapan”, yakni ketika para pemuda memiliki kode “siap” untuk menyerang musuh.

Berdasarkan penyaksian Rosihan, ia melihat para pemuda mengejar dua tentara Jepang berpakaian preman yang melintas di sebuah perkampungan.

Para pemuda kemudian meneriakkan “siap” yang dilanjutkan dengan pengejaran terhadap tentara Jepang tersebut.




Dua tentara itu pun lari terbirit-birit dan tak urung pantatnya pun sempat terkena tusukan bambu runcing.

Sebelum terjadi apa-apa, tentara sekutu yang sedang berpatroli membubarkan para pemuda.

Nyawa dua tentara Jepang itu masih terselamatkan, beda nasibnya dengan seorang kapten Belanda yang bertemu seorang tukang soto bernama Pak Amat.

Kala itu di Gang Bangkok, tak jauh dari Gang Kingkit, datang seorang kapten Belanda ke binatu di Pecenongan.

Sang kapten lengkap berpakaian, termasuk dengan pistol yang bertengger di pinggang.

Kepalang benci dengan penjajah Belanda, Pak Amat tiba-tiba mendekat kapten tersebut dan dengan cepat menikam sang kapten dengan pisau.

Tak banyak yang datang membantu, sampai-sampai kapten tersebut meregang nyawa.

Selepas peristiwa tersebut, tukang soto itu bergabung dengan para pejuang di bawah Komandan Lukas Kustaryo di Karawang.

Sosok Lukas Kustaryo dikenal dengan peristiwa Pembantaian Rawagede dan salah satu orang yang paling dicari oleh tentara Belanda.

Lukas dan Pembantaian Rawagede menjadi inspirasi penyair terkenal Chairil Anwar dalam menulis sajak “Karawang-Bekasi”.

Terkait Pembantaian Rawagede, itu merupakan peristiwa pembantaian oleh tentara Belanda dalam pencarian Lukas.

***

Semoga artikel ini bermanfaat ya, Sahabat 99!

Simak informasi menarik lainnya di Berita 99.co Indonesia.

Sedang mencari rumah dijual di Tanah Abang?

Kunjungi www.99.co/id dan temukan hunian impianmu dari sekarang!




Alya Zulfikar

Penulis 99.co Indonesia

Related Posts