Berita Ragam

Inilah Alasan Gus Dur Dijuluki Bapak Pluralisme Indonesia. Sukses Hapus Diskriminasi Terhadap Etnis Tionghoa?

2 menit

Sosok Presiden Indonesia Keempat Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dijuluki sebagai Bapak Pluralisme. Kenapa ia bisa dijuluki demikian?

Presiden Indonesia yang sudah selesai masa jabatannya punya julukan masing-masing.

Seperti Soekarno sang Bapak Proklamator, Soeharto sang Bapak Pembangunan, dan Gus Dur sang Bapak Pluralisme.

Gus Dur dikenal sebagai salah satu presiden Indonesia bernyali besar yang memberikan banyak dobrakan di masa pemerintahannya.

Julukan tersebut disematkan kepada Gus Dur karena ia sangat menghargai keberagaman dalam berbagai hal, terutama keberagaman suku, agama, dan ras.

Menurut keterangan dari Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti, Julukan Bapak Pluralisme Gus Dur diberikan karena tokoh NU tersebut telah memberikan gagasan-gagasan universal.

Gagasan-gagasan tersebut utamanya terkait pentingnya menghormati perbedaan sebagai bangsa yang beragam dan lantang dalam membela minoritas.

Gus Dur Sang Bapak Pluralisme

gus dur dan pemikiran kebangsaannya

Sumber: ayojalanterus.com

Ada banyak bukti kenapa Gus Dur pantas dijuluki Bapak Pluralisme Indonesia, salah satunya pencabutan larangan kegiatan adat warga Tionghoa secara terbuka seperti Imlek.

Selama menjabat sebagai presiden, Gus Dur pun bernyali besar dalam mendobrak diskriminasi terhadap warga Tionghoa dengan mempertahankan prinsip pluralismenya.

Untuk menjaga eksistensi NKRI, ia pun tak gentar memperjuangkan perlindungan hak asasi masyarakat sipil dan hak kaum minoritas di Tanah Air.




Salah satu bukti nyata perjuangannya adalah mencabut Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat China.

Inpres yang dibuat era Orde Baru di bawah pemerintahan Soeharto itu melarang segala hal berbau Tionghoa, termasuk perayaan Imlek.

Inpres tersebut dicabut dengan terbitnya Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 6 Tahun 2000 pada 17 Januari 2000.

Semenjak itu, masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia bisa mendapatkan kebebasan merayakan Tahun Baru Imlek.

Gus Dur pun meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif (libur hanya bagi yang merayakan) melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2001.

Kemudian Imlek diresmikan sebagai salah satu hari libur nasional oleh Megawati Soekarnoputri pada masa jabatannya.

Dari kiprahnya membela hak-hak minoritas itulah kemudian Gus Dur dijuluki sebagai Bapak Pluralisme yang menjunjung tinggi toleransi di negeri yang terdiri dari banyaknya perbedaan latar belakang ini.

***

Semoga bermanfaat, Sahabat 99.

Simak informasi menarik lainnya di Berita 99.co Indonesia.

Kunjungi www.99.co/id dan rumah123.com untuk menemukan hunian impianmu dari sekarang.

Dapatkan kemudahan untuk memenuhi kebutuhan properti, karena kami selalu #AdaBuatKamu.

Kunjungi dari sekarang dan temukan hunian favoritmu, salah satunya Griya Reja Residence!




Alya Zulfikar

Penulis 99.co Indonesia

Related Posts