Berita Berita Properti

Raksasa Properti China Terlilit Utang Rp4.000 Triliun, Ini Kondisi Emiten Properti Indonesia!

2 menit

Perusahaan properti raksasa China, Evergrande Group tengah terbelit utang senilai US$300 miliar atau setara Rp4.277 triliun. Lantas, bagaimana dengan kondisi emiten properti Indonesia? Apakah keuangan mereka lancar?

Kabar mengejutkan tersebut berhasil membuat geger industri properti, Sahabat 99.

Evergrande Group adalah salah satu pengembang properti terbesar di dunia.

Sudah ribuan proyek yang dibangun perusahaan properti kedua terbesar di China itu.

Namun, seperti melansir CNBCIndonesia, Evergrande memiliki kewajiban atau bunga pinjaman yang cukup besar.

Utang perusahaan tersebut mencapai ribuan triliun dan sudah jatuh tempo.

Evergrande Utang Ribuan Triliun

evergrande bangkrut

finance.detik.com

Raksasa properti itu terbelit utang hingga mencapai US$300 miliar.

Nilai itu setara dengan Rp4.277 triliun!

Otoritas perumahan China juga telah memberitahu sejumlah bank kalau Evergrande tidak mampu membayar bunga pinjaman karena kesulitan likuiditas.

Bunga pinjaman itu jatuh tempo pada 20 September lalu.

Kondisi tersebut membuat emiten properti di Indonesia jadi sorotan.

Bagaimana dengan kondisi keuangan pengembang properti terbesar di tanah air?

Apakah mereka masih tetap mampu bertahan?

Kondisi Emiten Properti Indonesia

Ada sejumlah perusahaan properti terbesar yang sudah mencatatkan namanya di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Perusahaan itu adalah PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), dan PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN).

Kemudian, PT Ciputra Development Tbk (CTRA), PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Pakuwon Jati Tbk (PWON), PT Sentul City Tbk (BKSL), dan PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK).




Melansir CNBCIndonesia, kondisi kesehatan keuangan mereka dapat dililihat dari laporan keuangan semester 1/2021.

Ini menggunakan rasio utang dibandingkan dengan ekuitasnya (DER, debt to equity ratio) dan rasio cepat (quick ratio/QR).

DER suatu perusahaan dapat dikatakan sehat jika di bawah angka 1 atau 100 persen.

Sementara QR digunakan untuk melihat kemampuan perusahaan membayar utang jangka pendeknya.

QR ideal ketika lebih besar atau sama dengan 100 persen atau 1.

DER dan QR Emiten Properti, 5 Perusahaan di atas 100 Persen!

bursa efek indonesia

market.bisnis.com

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, terdapat lima emiten dengan DER di atas 100 persen.

Emiten properti itu adalah SMRA, LPKR, APLN, CTRA, dan ASRI.

Sementara QR rendah di bawah 100 persen adalah SMRA, LPKR, APLN, ASRI, BKSL, dan LPCK.

QR di bawah 100 persen berpotensi terjadinya kesulitan untuk melunasi utang jangka pendek perusahaan.

Sementara itu, hanya BSDE dan PWON dengan QR sebesar 130 persen atau 1,3 kali.

BSDE dan PWON juga memiliki DER yang rendah yakni masing-masing sebesar 78,41 persen dan 72,25 persen.

Namun, hal tersebut hanya merupakan gambaran kasar, ya.

Banyak analisis dan variabel lain yang perlu dilakukan untuk mengetahui kemampuan emiten properti membayar utang perusahaan.

Misalnya saja melihat kinerja arus kas operasional atau cash flow perusahaan setiap kuartal atau tiap semesternya.

 ***

Semoga bermanfaat, Sahabat 99.

Simak artikel lainnya di Berita 99.co Indonesia.

Jangan lupa, cek rumah incaranmu dari sekarang hanya di www.99.co/id!




Ilham Budhiman

Penulis 99.co Indonesia. Lulusan sastra daerah yang berkarier sebagai wartawan sejak 2016 dengan fokus liputan terkait hukum, logistik, dan properti nasional.

Related Posts