Berita Politik

Data Pemilih dari Situs KPU Diretas, Dampaknya Disebut Dapat Mencederai Pesta Demokrasi!

2 menit

Menjelang Pemilu 2024, Indonesia kembali dihebohkan dengan data pemilih dari situs KPU yang terkena retas dan dijual di situs BreachForums. Apa akibat dari kasus ini?

Melansir bbc.com, sebanyak 204 juta data pemilih Pemilu 2024 telah dicuri dan dijual oleh pihak yang tak bertanggung jawab.

Akun anonim bernama “Jimbo” mengklaim telah meretas situs KPU dan menguasai 204 juta data pemilih.

Sebagai bukti, hacker ini membagikan 500.000 sampel di situs BreachForums yang sering digunakan untuk menjual data curian peretas.

Data ini berisi informasi lengkap, mulai dari Nomor Induk Kependudukan (NIK), Nomor Kartu Keluarga (KK), jenis kelamin, alamat, status pernikahan, dan lain sebagainya.

Dijualnya data pribadi ini tentunya memiliki pengaruh yang cukup besar pada masyarakat Indonesia.

Simak apa akibat dari diretasnya data pemilih dari situs KPU di bawah ini.

Akibat Diretasnya Data Pemilih dari Situs KPU

Data Pemilih dari Situs KPU bocor

sumber: rri.co.id

Menurut Ketua Lembaga Keamanan Siber Communication and Information System Security Research (CISSReC), Pratama Persadha, peretasan berhasil dilakukan melalui beragam metode.

“Menggunakan metode phising, social engineering atau melalui malware, di mana dengan memiliki akses dari salah satu pengguna tersebut, Jimbo mengunduh data pemilih serta beberapa data lainnya,” kata Pratama, melansir dari bbc.com, Kamis (30/11/2023).

Dari metode tersebut, hacker dapat masuk sebagai admin dan memperoleh akses ke domain sidalih.kpu.go.id.



Menurut Pratama, peretasan data ini bisa berbahaya karena dapat memengaruhi pesta demokrasi pemilu.

Peran admin yang didapatkan oleh “Jimbo” bisa digunakan untuk merekapitulasi perhitungan suara.

“Tentunya akan mencederai pesta demokrasi bahkan bisa menimbulkan kericuhan pada skala nasional,” ujarnya.

Peneliti dari Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), Annisa N Hayati, juga mengatakan kebocoran dapat menimbulkan penyalahgunaan data.

“Semakin banyak data yang dikumpulkan tentang pemilih, maka semakin meyakinkan panggilan palsu, pesan teks, atau email tentang individu dan koneksi sosial mereka,” kata Annisa, melansir dari bbc.com, Kamis (30/11/2023).

Pendapat KPU Terkait Data yang Diretas

Terkait isu ini, KPU mengatakan bahwa data daftar pemilih tetap (DPT) tidak hanya tersimpan di data center KPU.

Oleh karena itu, KPU sedang melakukan penelusuran lebih jauh untuk memastikan apakah peretasan dilakukan terhadap data milik KPU.

“Tim KPU dan Gugus Tugas [BSSN, Cybercrime Polri, BIN dan Kemenkominfo] sedang bekerja menelusuri kebenaran dugaan,” kata Ketua KPU, Hasyim Asy’ari seperti dikutip dari kompas.com, Kamis (30/11/2023).

Selama pemeriksaan ini, KPU telah menonaktifkan akun-akun pengguna Sidalih sebagai upaya penanganan peretasan lebih lanjut.

Diharapkan permasalahan ini dapat segera terselesaikan sebelum tingkat kepercayaan publik pada penyelenggara pemilu mulai menurun.

***

Semoga informasi ini bermanfaat untukmu, Property People.

Baca artikel informatif lainnya hanya di berita.99.co.

Ikuti Google News Berita 99.co untuk terus mendapatkan update terbaru.

Kalau sedang mencari hunian, cek rekomendasi terbaiknya di www.99.co/id.

Menemukan hunian yang pas di hati kini #SegampangItu!




Shafira Chairunnisa

Lulusan Hubungan Internasional di Universitas Katolik Parahyangan dan pernah bekerja sebagai jurnalis di media nasional. Sekarang fokus menulis tentang properti, gaya hidup, desain, dan politik luar negeri. Senang bermain game di waktu senggang.
Follow Me:

Related Posts