Berita Ragam

4 Alasan Mengapa Warteg Boleh Buka Saat Bulan Puasa. Demi Kepentingan Bersama?

2 menit

Terdapat beberapa alasan warteg boleh buka saat bulan puasa yang berhubungan dengan kepentingan orang banyak. Apa saja? Simak ulasannya berikut ini!

Perdebatan mengenai warteg yang tetap buka ketika memasuki bulan Ramadan seolah tak kunjung usai.

Dalam pernyataan terbaru, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cholil Nafis menilai warung yang menjual makanan tak perlu tutup saat bulan puasa.

Namun, ada beberapa syarat yang mesti dipahami, yakni warung tersebut tidak memamerkan jualannya terhadap orang-orang yang berpuasa.

“Warung tak usah ditutup jualannya, tapi makannya jangan dipamerkan kepada orang yang sedang berpuasa,” tulis Cholil lewat akun Twitter-nya.

“Yang puasa jangan menutup hajat orang lain tapi yang tak puasa jangan menodai bulan Ramadhan. Ayo saling tenggang rasa dan saling menghormati,” tambahnya.

Warung yang dimaksud oleh Cholil Nafis tidak terkecuali warung tegal alias warteg yang keberadaannya sangat banyak di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.

Mengutp boombastis.com, setidaknya ada 4 alasan mengapa tutup warung—termasuk warteg—saat bulan puasa tak perlu lagi dilakukan. Apa saja?

4 Alasan Mengapa Warteg Boleh Buka Saat Bulan Puasa

1. Kembali pada Keimanan Setiap Individu

warteg boleh buka saat bulan puasa

sumber: kompas.com

Puasa tak hanya menahan lapar dan haus, melainkan juga menahan godaan dari segala hal yang membatalkannya.

Godaan tersebut acapkali bukan datang dari warteg yang sedang buka di siang bolong, tetapi dari hawa nafsu diri sendiri.

2. Banyak Orang Sakit di Bulan Puasa

Puasa termasuk ke dalam rukun Islam, tetapi dalam kondisi tertentu, seperti sakit misalnya, orang diperbolehkan untuk tidak berpuasa dan menggantinya di bulan lain.

Tak jarang pula orang sakit tersebut kesulitan menemukan makanan lantaran sebagian besar warteg tutup.

Alasan ini setidaknya bisa dijadikan acuan bahwa tak semua orang bisa berpuasa karena adanya masalah kesehatan.




3. Indonesia Punya 4 Agama Lain

suasana di warteg

sumber: suarapemerintah.id

Selain Islam, Indonesia memiliki agama yang diakui lainnya, yakni Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha.

Bukan tidak mungkin penganut agama lain yang biasa makan sehari-hari di warteg akan kesulitan jika warteg tutup sepenuhnya.

Apalagi dibandingkan dengan warung makan lainnya, warteg menjadi salah satu warung makan yang terjangkau oleh banyak kalangan.

4. Terkait Rezeki Orang Lain

Sebagian orang berpendapat jika warteg yang dipaksa tutup saat bulan puasa artinya menghambat rezeki orang lain.

Di luar itu, Sekjen MUI, Amirsyah Tambunan juga menyatakan warung penjual makanan tetap dapat mengais rezeki di siang hari.

“Apalagi ada sweeping-sweeping, jangan ada lah. Menurut hemat saya dicari strateginya, dibuat momentum yang pas sehingga di satu sisi tak mengganggu orang yang sedang berbuka,” ucapnya.

“Di sisi lain, penjual makan bisa berjalan sebagaimana yang diharapkan,” kata Amirsyah dikutip dari voi.id.

***

Semoga bermanfaat ya.

Baca artikel terbaru lainnya hanya di Berita 99.co Indonesia.

Jangan lupa kunjungi 99.co/id dan rumah123.com untuk menemukan hunian dan kebutuhan properti lainnya, karena kami selalu #AdaBuatKamu.

Salah satunya seperti Morizen yang berlokasi di Bekasi.




Hendi Abdurahman

Penulis 99.co Indonesia. Membahas sekaligus mengupas tentang berita properti, desain rumah, hingga tips & trik seputar hunian.

Related Posts